Berapa Lama Kunjungan ke Raudah Berlangsung?
Pertanyaan ini biasanya muncul saat jamaah sedang menyusun acara harian di Madinah: kalau sesinya sore, apakah masih sempat kembali ke hotel untuk istirahat? Apakah perlu memberi jeda sebelum janji berikutnya? Jawaban yang menolong bukanlah satu angka, melainkan kesadaran bahwa yang ditanyakan sebenarnya dua hal berbeda yang sering tercampur menjadi satu.
Yang pertama adalah waktu berada di dalam area Raudah. Yang kedua adalah keseluruhan rangkaian dari mulai bersiap sampai kembali berkumpul dengan rombongan. Keduanya berbeda jauh, dan mencampurnya adalah sumber kekecewaan yang paling sering kami dengar.
Bagian pertama: waktu di dalam Raudah
Bagian ini singkat. Sangat singkat, dan memang dirancang demikian. Raudah adalah area kecil di dalam Masjid Nabawi dengan luas sekitar 330 meter persegi, kira-kira 22 meter kali 15 meter, terletak di antara rumah Nabi ﷺ yang kini menjadi makam beliau dan mimbar beliau. Keutamaannya disebutkan dalam hadits yang masyhur:
“Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman-taman surga.” (HR Bukhari dan Muslim)
Bandingkan luas sekecil itu dengan jumlah jamaah yang ingin masuk, dan hasilnya bisa diduga: petugas harus mengatur giliran agar seluruh pemegang izin kebagian tempat. Jamaah diarahkan untuk terus bergerak, dan di area tersebut berlaku larangan memotret maupun merekam yang ditegakkan petugas.
Kami sengaja tidak menyebutkan angka menit untuk bagian ini. Bukan karena ingin menyembunyikan sesuatu, melainkan karena angka yang beredar di berbagai artikel saling bertentangan, dan tidak ada satu pun yang bisa kami rujuk sebagai ketentuan resmi. Yang dapat dikatakan dengan jujur adalah ini: waktu di dalam sangat dibatasi, dan lamanya bukan hak jamaah untuk menentukan sendiri.
Karena itu, sikap yang paling menenangkan adalah menyiapkan hati sejak sebelum berangkat. Doa dan salat sunah yang ingin dikerjakan sebaiknya sudah dipikirkan lebih dahulu, sehingga giliran yang singkat itu tidak habis untuk kebingungan. Banyak jamaah menyesal bukan karena waktunya pendek, melainkan karena belum siap ketika gilirannya tiba.
Bagian kedua: rangkaian prosesnya jauh lebih panjang
Di sinilah sebagian besar waktu terpakai. Bila Bapak dan Ibu hanya menyediakan waktu selama sesi yang tertera pada izin, rencana harian hampir dipastikan meleset. Rangkaiannya kira-kira begini.
Bersiap dan berangkat menuju masjid
Perjalanan dari penginapan menuju Masjid Nabawi, berwudu, lalu berjalan di dalam kompleks masjid yang luas. Bagi jamaah yang baru tiba di Madinah dan belum hafal arah, bagian ini saja sudah memakan waktu lebih lama daripada dugaan.
Berkumpul di titik masuk
Jamaah diarahkan menuju area berkumpul sebelum masuk. Nama pintu di Masjid Nabawi relatif tetap, misalnya Pintu As-Salam, tetapi nomor gerbang dan alur masuk dapat diatur ulang oleh petugas mengikuti kepadatan. Karena itu jangan menghafal nomor gerbang dari artikel mana pun; ikuti arahan petugas di tempat.
Menunggu giliran rombongan
Pemegang izin tidak masuk satu per satu sesuai kedatangan, melainkan digerakkan dalam rombongan. Ada masa menunggu di area transit sebelum rombongan dipanggil maju. Inilah bagian yang paling sulit diperkirakan panjangnya, karena bergantung pada kepadatan hari itu.
Pemeriksaan izin di pintu
Kode QR di aplikasi Nusuk ditunjukkan untuk dipindai. Izin bersifat pribadi dan terikat identitas pemegangnya, sehingga setiap orang diperiksa sendiri-sendiri. Menyiapkan layar ponsel sejak sebelum antrean maju membuat bagian ini berjalan lancar.
Keluar dan berkumpul kembali
Setelah giliran selesai, jamaah diarahkan keluar melalui jalur tertentu yang belum tentu sama dengan jalur masuk. Menyepakati titik temu dengan rombongan sejak awal jauh lebih baik daripada saling mencari di kompleks masjid yang luas.
Sedang menyusun acara harian di Madinah?
Kalau Bapak dan Ibu ragu berapa banyak waktu yang perlu dikosongkan pada hari kunjungan, silakan ceritakan rencana harian dan jumlah rombongannya. Kami bantu perkirakan bersama, tanpa biaya untuk bertanya.
Menyusun perkiraan yang masuk akal
Karena angka pastinya tidak dapat dipertanggungjawabkan, yang kami sarankan adalah cara berpikirnya, bukan angkanya:
- Kosongkan seluruh bagian hari itu, bukan hanya jam sesinya. Anggap kunjungan ke Raudah sebagai satu agenda utama, lalu susun agenda lain di sekitarnya dengan longgar.
- Jangan menempelkan janji penting tepat setelahnya. Keberangkatan menuju kota lain, pertemuan rombongan, atau jadwal kendaraan sebaiknya diberi jarak.
- Hitung dua rencana untuk satu keluarga. Sesi pria dan wanita dipisah, jadi suami dan istri berkunjung pada waktu yang berbeda. Ini berarti dua blok waktu, bukan satu.
- Tambahkan kelonggaran untuk jamaah lanjut usia. Jarak berjalan di dalam kompleks masjid tidak pendek. Otoritas Masjid Nabawi mengizinkan penggunaan kursi roda manual di area tersebut, dan pendampingnya perlu direncanakan sejak awal.
- Siapkan bekal sederhana. Air minum secukupnya dan alas kaki yang mudah dilepas-pasang mengurangi kerepotan kecil yang memakan waktu.
Hal yang membuat perkiraan meleset
Ada beberapa keadaan yang sering tidak diperhitungkan jamaah. Pertama, sesi yang diperoleh belum tentu sesi yang diinginkan; ketersediaannya ditentukan sistem Nusuk dan tidak dapat dipastikan oleh pihak mana pun. Kedua, bila sesi yang diincar penuh, jamaah dapat memakai fitur daftar tunggu dan menunggu pemberitahuan — yang berarti waktunya belum tentu pada hari yang direncanakan. Ketiga, satu kode QR hanya berlaku untuk satu janji temu, sehingga kunjungan ulang memerlukan izin baru dan blok waktu baru.
Bagi yang ingin mengulang kunjungan setelah berada di Madinah, tersedia Jalur Instan yang tidak terikat pembatasan frekuensi pemesanan reguler. Syaratnya, pemohon harus sedang berada di Kawasan Pusat Madinah. Cara memilih sesinya kami bahas terpisah pada panduan memilih jadwal di aplikasi Nusuk, sementara pertimbangan memilih harinya ada di tulisan tentang waktu berziarah yang sesuai bagi jamaah.
Penutup
Singkatnya: waktu di dalam Raudah pendek, dan prosesnya panjang. Jamaah yang memahami hal ini sejak dari tanah air datang dengan harapan yang tepat, dan justru merasakan kunjungannya lebih tenang. Perlu diingat pula bahwa ketentuan dapat berubah sewaktu-waktu, jadi periksalah kembali aplikasi Nusuk terbaru sebelum berangkat.
Ingin dibantu menyiapkan harinya?
Kami mendampingi jamaah memahami proses ini dari awal, termasuk menyiapkan rencana untuk rombongan yang sesinya berbeda-beda. Izin Raudah sendiri diterbitkan platform Nusuk tanpa dipungut biaya oleh pemerintah Arab Saudi; yang kami tawarkan adalah pendampingannya.