JadwalRaudah

Jadwal Raudah Pria dan Wanita: Bagaimana Pembagiannya

Ditulis Tim JadwalRaudah · 16 September 2026

Pertanyaan ini hampir selalu muncul pertama kali: jam berapa sebenarnya sesi Raudah untuk pria, dan jam berapa untuk wanita? Jawaban jujurnya membutuhkan dua bagian. Ada hal yang memang tetap dan bisa dijadikan pegangan, dan ada hal yang berubah-ubah sehingga berbahaya kalau dihafal dari artikel mana pun, termasuk artikel ini.

Mari kita mulai dari alasan mengapa kunjungan ke Raudah perlu dijadwalkan sama sekali.

Mengapa kunjungan ke Raudah diatur dengan jadwal

Raudah adalah area di dalam Masjid Nabawi yang terletak antara rumah Nabi ﷺ — yang kini menjadi makam beliau — dan mimbar beliau. Keutamaannya disebut dalam hadits yang masyhur:

“Antara rumahku dan mimbarku terdapat taman di antara taman-taman surga.” (HR Bukhari dan Muslim)

Menurut data Otoritas Umum Urusan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, luas area ini hanya sekitar 330 meter persegi, kira-kira 22 meter kali 15 meter. Bandingkan dengan jumlah jamaah umrah dan peziarah yang datang ke Madinah sepanjang tahun, dan persoalannya menjadi jelas dengan sendirinya: ruangnya sangat kecil, peminatnya sangat banyak.

Karena itulah otoritas mewajibkan kunjungan dipesan lebih dahulu. Tanpa izin yang sudah terbit, jamaah tidak dapat masuk ke area tersebut. Izin ini diterbitkan melalui platform resmi Nusuk milik Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi, dan penerbitannya tidak dipungut biaya oleh pemerintah Arab Saudi.

Yang tetap: sesi pria dan wanita memang dipisah

Pemisahan waktu antara jamaah pria dan wanita bukan kebiasaan lapangan, melainkan bagian dari pengaturan resmi. Hal ini terlihat dari cara Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menyusun layanannya: izin Raudah terdaftar sebagai dua layanan terpisah, satu untuk pria dan satu untuk wanita. Jadi ketika Bapak atau Ibu membuka aplikasi dan diminta memilih kategori, itu bukan sekadar penyaringan tampilan, melainkan memang dua alur izin yang berbeda.

Konsekuensi praktisnya, satu keluarga yang berangkat bersama tidak akan memperoleh satu jadwal yang sama untuk semua anggotanya. Suami dan istri akan berkunjung pada sesi yang berbeda, dan itu normal. Merencanakan hal ini sejak awal jauh lebih tenang daripada menemukannya mendadak ketika sudah berada di Madinah.

Yang berubah: jam persisnya

Di sinilah banyak panduan di internet menyesatkan pembacanya. Beredar berbagai tabel jam yang terlihat meyakinkan, lengkap sampai ke menit. Persoalannya, ketika kami menelusuri sumber-sumber resmi, angkanya tidak sama satu dengan yang lain, bahkan di antara dokumen resmi sendiri pada periode yang berbeda.

Itu bukan karena salah satunya berbohong, melainkan karena jadwal tersebut memang disesuaikan. Otoritas Masjid Nabawi mengatur waktu sesi menurut kepadatan dan kebutuhan operasional, dan pengaturannya berbeda lagi pada periode tertentu seperti Ramadhan dan musim haji. Tabel jam yang benar pada satu musim bisa keliru pada musim berikutnya.

Karena itu kami mengambil sikap yang mungkin terasa kurang memuaskan pada awalnya, tetapi lebih aman untuk perjalanan Bapak dan Ibu: kami tidak mencantumkan tabel jam di situs ini. Jamaah yang datang berbekal jadwal usang akan kehilangan waktu, dan itu kerugian yang nyata ketika hari di Madinah hanya sedikit.

Lalu di mana melihat jadwal yang benar-benar berlaku?

Di aplikasi Nusuk itu sendiri, pada saat Bapak atau Ibu memilih slot. Sesi yang ditampilkan di sana adalah sesi yang benar-benar tersedia untuk tanggal tersebut, sudah memperhitungkan kategori pria atau wanita serta kapasitas yang tersisa. Tidak ada sumber lain yang lebih mutakhir daripada itu.

Satu catatan keamanan yang penting. Pernah beredar peringatan resmi dari petugas haji Indonesia mengenai tautan palsu yang mengatasnamakan Nusuk dan dikirimkan lewat pesan, termasuk pesan WhatsApp. Kebiasaan yang paling aman adalah mengetik sendiri alamat resminya di peramban atau membuka aplikasi yang sudah terpasang, bukan mengeklik tautan dari pesan yang tidak jelas asalnya. Kebiasaan sederhana ini menutup sebagian besar modus penipuan.

Bingung membaca pilihan sesinya?

Kalau tampilan pilihan jadwal di aplikasi membingungkan, atau Bapak dan Ibu ragu memilih sesi yang mana untuk rombongan keluarga, silakan tanyakan lebih dahulu. Bertanya tidak dipungut biaya dan tidak ada kewajiban melanjutkan.

Tanya Dulu via WhatsApp

Dua jalur memperoleh izin, dan bedanya

Ada dua cara resmi memperoleh izin Raudah melalui Nusuk, dan keduanya berhubungan erat dengan soal jadwal.

Pemesanan reguler

Jalur yang umum dipakai: memilih tanggal dan sesi yang tersedia, lalu izin diterbitkan atas nama masing-masing jamaah. Jalur ini memiliki pembatasan frekuensi, sehingga tidak dapat diulang sesuka hati dalam waktu berdekatan. Angka pastinya sengaja tidak kami tuliskan karena keterangan resmi yang kami temukan pun tidak seragam; yang perlu dipahami adalah bahwa pembatasan itu ada.

Jalur Instan

Otoritas menambahkan layanan Jalur Instan yang memungkinkan kunjungan tanpa terikat pembatasan frekuensi tersebut. Namun ada syarat yang sering terlewat dibaca: pemohon harus sedang berada di Kawasan Pusat Madinah, yakni di sekitar Masjid Nabawi. Artinya jalur ini tidak dapat dipakai dari tanah air, dan juga tidak dapat dipakai ketika masih berada di Makkah. Ia baru menjadi pilihan setelah jamaah tiba di Madinah.

Selain itu tersedia pula fitur daftar tunggu. Bila sesi yang diinginkan sudah penuh, jamaah dapat mendaftar untuk menerima pemberitahuan apabila ada slot yang kembali kosong. Cara kerjanya dibahas lebih rinci pada panduan memilih jadwal Raudah di aplikasi Nusuk.

Tiga hal yang sering disalahpahami soal jadwal

Pertama, jadwal bukan lamanya kunjungan. Sesi yang tertera adalah waktu janji temu, bukan durasi berada di dalam. Waktu di dalam Raudah sangat terbatas dan petugas mengatur giliran agar seluruh pemegang izin kebagian. Perkiraan waktu yang lebih realistis kami uraikan di artikel berapa lama kunjungan ke Raudah berlangsung.

Kedua, izin bersifat pribadi. Izin terikat pada identitas pemegangnya dan diperiksa dengan pemindaian kode QR di pintu masuk, sehingga tidak dapat dipindahtangankan. Setiap jamaah memerlukan izin atas namanya sendiri, termasuk dalam rombongan keluarga.

Ketiga, satu izin untuk satu kunjungan. Kode QR terikat pada satu janji temu dan dipakai sekali saat dipindai. Kunjungan berikutnya memerlukan izin baru.

Menyiapkan rencana yang masuk akal

Bila hari di Madinah hanya dua atau tiga hari, sebaiknya kunjungan ke Raudah tidak diletakkan pada hari terakhir. Memberi ruang satu hari cadangan membuat Bapak dan Ibu memiliki pilihan bila sesi yang diinginkan tidak tersedia. Pertimbangan memilih hari dan sesi, termasuk penyesuaian untuk jamaah lanjut usia, kami bahas tersendiri di artikel waktu terbaik berziarah ke Raudah.

Perlu diingat pula bahwa ketentuan dapat berubah sewaktu-waktu. Sebelum berangkat, pastikan memeriksa kembali informasi yang ditampilkan aplikasi Nusuk terbaru. Itulah rujukan yang paling mutakhir, dan kebiasaan memeriksanya sendiri adalah perlindungan terbaik dari informasi usang yang beredar di luar.

Ingin ditemani dari awal?

Kami mendampingi jamaah memahami proses ini dari menyiapkan akun pengunjung sampai membaca pilihan sesi yang muncul. Penerbitan izinnya tetap dilakukan Nusuk tanpa biaya dari pemerintah Arab Saudi — yang kami tawarkan adalah pendampingannya. Ceritakan dulu rencana perjalanan Bapak dan Ibu, nanti kami bantu petakan.

Konsultasi Gratis via WhatsApp

WhatsApp